Selasa, 05 Maret 2013

Dahulukan Istri, Baru Kemudian Anak..Bukan Sebaliknya..!

Jelas ini adalah sebuah gambaran nyata dari perkembangan zaman era modern yang sudah semakin sulit untuk kita bendung . Tidak ada pilihan bagi kita kecuali adalah mengikutinya, tapi hendaknya kita harus menjadi pengikut yang baik. Dimana ketika tawaran budaya dari perkembangan zaman itu melanggar norma dan etika, maka tidak sepantasnya untuk kita ikuti, justru adalah sebaliknya kita harus mencegah dan menolaknya.

Klaim kita atas anak terlebih dahulu ketimbang istri, adalah seringkali muncul ketika seorang laki-laki ditanya, “untuk apakah anda bekerja..?”, “untuk menghidupi anak dan istri”…jawabnya.

Jika jawaban di atas adalah benar, maka sekarang klaimnya kita rubah, kenapa..? ini bukan hanya masalah pada penyebutan semata, tapi esensinya adalah jauh lebih besar dari sekedar sebuah sebutan. Karena konsep “anak dulu baru istri” itu adalah produk negatif dari budaya kekinian, dimana sekarang ini -maaf-remaja kita jauh lebih senang bikin anak ketimbang beristri terlebih dahulu. Karena pakem yang mereka bawa, karena dalih ” Anak dan Istri” , jadi digambarkanlah pada otak dangkal remaja kita, bahwa dahulukan anak sebelum istri. 

Itu adalah jelas-jelas sebuah kesalahan fatal yang mereka lakukan, dan bisa jadi kesalahan mereka karena keseringan kita mengucapkan kata anak dulu baru Istri. Di sadari atau tidak, benar atau salah, ragam realita sudah kita saksikan sendiri. Mengapa kita tidak kembali memperhatikan bagaimana orang-orang tua, nenek moyang kita dahulu bertutur, dimana selalu mengedepankan Istri baru kemudian anak, disamping makna kearifan, ketika orang yang pertama kali mendampingi kesusahpayahan kita dalam mengukir hari-hari sebelum ada hadirnya anak adalah seorang Istri, Istri ada sebelum anak lahir, penyebutan itu harus diurutkan sesuai dengan aturannya.

Bagaimana, bisakah kita merubah Sebutan Itu…?? perkara mudah tentunya

================
Salam Inspirasi Pagi

0 komentar:

Posting Komentar